Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Tidak Ada Nama

 Maka biarlah ia tidak bernama lagi. Tidak mengenalkan diri pada siapa pun.  Tidak terhitung, tidak perlu dihitung yang jatuh dan yang tumbuh pada tempat bernama rahasia. "Mars, Albert Camus bilang ... hidup ini tidak bermakna. Upaya untuk menemukan makna selalu berujung pada sebuah kegagalan," "Kau percaya?" "Belum selesai," Tapi ia ada. Ia mentari pagi lewat celah di kaca jendela. Kau membentuk bayang-bayang di ubin tua yang rusak, di dinding yang kosong. Sambil membaca sajak-sajak Sapardi, kau berjalan seiring dengannya, ke timur dan barat, ke arah yang ia tuju.  "Satu-satunya kenyataan yang sering ditolak adalah ketidak jelasan. Padahal, hidup memang nggak jelas. Kenyataan nggak pernah serapi apa yang kita pikirkan," Ia menyala seperti api yang kecil. Meliuk-liuk tertiup angin. "Kau, benar. Kita terlalu sering menyangkal, menambah-nambah daftar kata 'seharusnya dan sebaiknya', mendewakan pola pikir, sampai lupa untuk berjalan,...

Pada Suatu Pagi

Pada suatu hari, aku akan bangun lebih pagi dari matahari. Bukan untuk membuatkanmu sarapan, hanya untuk menulis puisi. Sambil mengamat-amati wajahmu yang ku pikir tidak lagi mirip Nicholas Saputra, aku bingung harus mulai dari mana.   Ketimbang memberiku bunga, kamu lebih sering kentut sembarangan. Ketimbang mengatakan aku cantik, kamu lebih sering berkomentar aku galak. Kamu sering meletakan handuk sembarangan di tempat tidur, dan baju-baju diletakan tidak sesuai tempatnya. Kita berebut remot TV untuk hari libur yang penuh. Kehabisan kata-kata untuk saling memuji. Aku bingung harus mulai dari mana. Tapi ternyata, kita melewatinya bersama dengan jenaka. Pada suatu hari, aku akan bangun lebih pagi dari matahari. Memakai kaos barumu yang kebesaran di badanku. Mengatur musik dan alarm yang sengaja ku letakan persis di samping telingamu. “Tiga… dua … satu…” kataku lirih dan takut-takut. “Kriiinggggggggggggggg”. Kamu terbelalak kaget karena bunyinya. Aku bersorak-sorak seperti an...