Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Pagi

Lihat ! Wajahnya indah seperti purnama. Sempurna untuk kau jadikan puisi malam ini. Apa kau suka diam berlama-lama ? Mengulur waktu, menunggu pagi mengusir purnamamu pergi ? Ah.. tentu kau tak suka pagi. Langitnya.. Sinarnya.. Embunnya.. Udaranya ... Tentu kau tak suka pagi. Alarm berdering terlalu cepat. Sinar mentari segera merambat. Kau pasti.. butuh secangkir kopi hangat. Ah.. tentu kau tak suka pagi. Embun yang jernih tetapi tetap kau anggap keruh. Langit yang biru tetapi tetap kau lihat kelabu. Sinar yang terang tetapi tetap kau anggap redup. Tentu kau tak suka pagi. Menyapu ribuan bintang di langit. Mengusik purnamamu hingga menjerit. Kau pasti... sangat sakit. Sekali lagi, Kau pasti tak suka pagi. Aku, adalah pagi.

Manusia

Manusia. Tidak suka disama-samakan, dibeda-bedakan ataupun dibanding-bandingkan, Manusia hanya suka apa yang mereka mau menjadi apa yang mereka dapatkan. Manusia membuat banyak sekali rencana dalam hidup mereka. Sibuk mempelajari ini itu, memperjuangkan a b c d. Ambisi, impian, tekad dan segala tetek-bengek lainnya menjadi bumbu dalam kehidupan mereka. Seperti sebuah drama. Kehidupan ini berputar setiap hari. Dengan ribuan konflik dan latar yang berbeda, dengan alur yang kadang maju, kadang mundur,manusia menjalani perannya masing-masing. Tentu saja mereka punya karakter yang berbeda di tiap-tiap adegan yang mereka mainkan. Ada saatnya mereka benar-benar memainkan tokoh protagonis dengan selalu mengucap syukur, membantu sesama, dan menebar banyak kebaikan pada semesta. Namun, ada saatnya pula, ketika mereka berubah menjadi tokoh antagonis dengan selalu mengeluh, merendahkan sesama, menyombongkan diri dan menebar banyak kejahatan pada semesta. Hidup adalah hitam dan putih. Air dan...

Sebuah Titik

Akhirnya, dia memutuskan mempermalukan dirinya sendiri di depan orang yang selama ini diam-diam dia suka. Memberikan pengakuan tanpa ada yang memintanya. Tanpa perlu berfikir panjang dia sudah melakukan segalanya. Se-ga-la-nya. Dia bilang, "Semuanya sudah selesai" Dari pernyataannya itu, kita tahu dia terluka. Lalu, kenapa harus diungkapkan kalau cuma bikin luka? Karena waktu terus berjalan. Aku tidak tahu sampai kapan perasaanku bertahan. Diam-diam, mengendap-endap, menyelusup.. Aku tidak tahu, sampai kapan aku menunggu. Tapi aku tahu, aku hanya akan melihatnya satu tahun lagi. Maksudku, setelah masa SMAku berakhir, semua kemungkinan bertemu dengannya menjadi satu berbanding seribu. Aku tidak bisa diam-diam memperhatikannya lagi. Tidak bisa meminjam bolpointnya lagi, tidak bisa membicarakan hal konyol dengannya lagi, lagi, lagi, dan lagi. Ya, melakukan hal yang sama berulang-ulang dengan orang yang sama pula belum tentu membosankan. Jadi,hari ini aku merasa sudah pumy...