Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Siapa Kita ?

Kita, bukan siapa-siapa. Hingga akhirnya siapa pun yang mau jadi siapa-siapa harus menentukan langkah. Harus mau jatuh bangun dan sedikit lebam di kepalanya. Kita orang biasa yang terlalu sering mengalah. Dengan alasan tidak pantas atau lutut gemetar tiap kali dihadapkan pada mata-mata lawan, kita merasa jadi orang awam satu-satunya. Tidak dikenal. Tidak populer. Tidak punya bakat apa-apa. Tidak ada pengalman. Belum cukup pengetahuan. Bukan begitu. Barangkali memang benar, kita hanya takut untuk berani memulai. Dan terlalu mendewa-dewakan alasan klasik untuk mundur dari arena pertandingan. Kita menganggap tugas adalah sebuah kesialan, jatuh adalah sebuah kemalangan. Lalu dengan mudahnya kita pandang orang lain lebih "beruntung" lebih "keren" lebih "jago" alias "top-markotop" daripada kita. Parahnya lagi, kita menutup diri untuk sebuah bakat yang dianugrahkan oleh Tuhan. Berpura-pura cacat dan enggan melangkah ke depan. Seb...

Tuan Berjaket Biru

Di sebuah ruang tunggu tanpa tiang-tiang penopang rindu duduklah tuan berjaket biru dengan manis mainkan gitar di malam minggu Tuan terpejam di tengah dentingan nada yang syahdu memutar ulang lagu-lagu yang hanya bisa menambah pilu angin malam yang menumpas habis kenangan itu sudah berlalu tapi, tuan masih saja sudi bertemu bertukar kabar dengan hanya memotret masa lalu gusar bila seorang bertopeng putih itu diganggu. Tuan berjaket biru, Kau teguk secangkir perih itu sebagai candu Kau koyak-koyak luka hatimu demi penipu ulung yang membagi kasih bukan hanya satu Bosan, aku.

Sepanjang Musim

Hai Kemarau, Musim rindu akan tumbuh pesat dipundaknya Menyergap sekujur tubuhnya hingga kaku dan membisu Anak sungai yang meliuk Daun-daun jatuh Dan semilir angin yang meniup lembut rambutnya ... Lalu, kuletakan harap di tatap matanya yang teduh Biar saja, Penghujan berlalu tanpa ku beritahu Biar saja Penghujan menunggu tanpa secuil ragu Karena kamu, biar jadi kamu adanya Kosong Kering Dan berharga Sementara di lain waktu Puisiku akan bermakna Seperti rinduku padamu Bebas ku baca, berulang kali Bebas ku rasa, berkali-kali Yaa, untukmu Seseorang yang ada di sepanjang musim.

Mey Menulis Kisah

Gambar
Bedugul, Bali Selamat menikmati rinai hujan Tepat di Januari dua kosong satu tujuh. Kenalkan, aku Mey. Datang dari arah yang tak pernah disebutkan di daftar arah mata angin yang pernah Kau pelajari di sekolah.Tidak juga diturunkan dari langit melalui proses evaporasi dan kondensasi yang acapkali Kau sebut itu hujan namanya.Tuhan tidak menempatkanku pada sebuah medan magnet dengan kekuatan menarik logam sangat besar. Tuhan juga tidak menciptakanku seindah pelangi, tapi Ia memberiku kasih setulus yang tak pernah bisa aku bayangkan. Aku ini, Mey. Tuhan telah menakdirkanku berjalan beriringan dengan April dan Jun. Bulan-bulan yang mengorbital, mengisi setiap tahun dengan kisah yang berbeda. Aku tidak punya kisah romantis untuk dua sejoli yang tengah dirundung asmara. Tidak juga cerita tragis yang menyayat hati si pengundi nasib tahunan yang senang bergurau menenteng segepok kartu di saku celananya. Aku Mey, yang selalu bergandengan tangan dengan April dan Jun. Ya, Kau...