Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Ia, Jadi Matahari Pagi

Mereka pernah berjanji untuk pergi ke sebuah kota. Menghabiskan malam hanya untuk berputar-putar, menghitung bintang, atau lampu jalan yang warna-warni. Rencana yang tidak lebih jitu dari maunya semesta. Tidak ada kota hari ini. Tidak ada warna-warni yang terang. Hanya hijau, biru, dan teduh. Percakapan dan gelak tawa yang membentur keras pohon yang menjulang itu.  Ini tempat rahasia, tapi tidak lebih dari perasaan salah satunya. Ia matahari pagi, membentuk bayang-bayang di barat. Senja dan bayang-bayang adalah  hal yang paling kau kagumi. Maka, dalam setiap ceritamu, matahari pagi tidak pernah punya tempat.  Bukan begitu? Dan, setengah perjalanan pulangnya jadi lebih dingin. Ia ingin menangis, agar kelopak matanya menjadi hangat. Ia ingin memasukan tangannya ke dalam saku celana, tapi disana terlalu banyak kenangan. Ia pilih menghilang saja.  Seperti bunglon yang menyamar di antara hijau daun dan cokelat dahan pohon tua yang kokoh. "Tidak apa-apa," artinya adalah in...

Tidak Ada Nama

 Maka biarlah ia tidak bernama lagi. Tidak mengenalkan diri pada siapa pun.  Tidak terhitung, tidak perlu dihitung yang jatuh dan yang tumbuh pada tempat bernama rahasia. "Mars, Albert Camus bilang ... hidup ini tidak bermakna. Upaya untuk menemukan makna selalu berujung pada sebuah kegagalan," "Kau percaya?" "Belum selesai," Tapi ia ada. Ia mentari pagi lewat celah di kaca jendela. Kau membentuk bayang-bayang di ubin tua yang rusak, di dinding yang kosong. Sambil membaca sajak-sajak Sapardi, kau berjalan seiring dengannya, ke timur dan barat, ke arah yang ia tuju.  "Satu-satunya kenyataan yang sering ditolak adalah ketidak jelasan. Padahal, hidup memang nggak jelas. Kenyataan nggak pernah serapi apa yang kita pikirkan," Ia menyala seperti api yang kecil. Meliuk-liuk tertiup angin. "Kau, benar. Kita terlalu sering menyangkal, menambah-nambah daftar kata 'seharusnya dan sebaiknya', mendewakan pola pikir, sampai lupa untuk berjalan,...

Pada Suatu Pagi

Pada suatu hari, aku akan bangun lebih pagi dari matahari. Bukan untuk membuatkanmu sarapan, hanya untuk menulis puisi. Sambil mengamat-amati wajahmu yang ku pikir tidak lagi mirip Nicholas Saputra, aku bingung harus mulai dari mana.   Ketimbang memberiku bunga, kamu lebih sering kentut sembarangan. Ketimbang mengatakan aku cantik, kamu lebih sering berkomentar aku galak. Kamu sering meletakan handuk sembarangan di tempat tidur, dan baju-baju diletakan tidak sesuai tempatnya. Kita berebut remot TV untuk hari libur yang penuh. Kehabisan kata-kata untuk saling memuji. Aku bingung harus mulai dari mana. Tapi ternyata, kita melewatinya bersama dengan jenaka. Pada suatu hari, aku akan bangun lebih pagi dari matahari. Memakai kaos barumu yang kebesaran di badanku. Mengatur musik dan alarm yang sengaja ku letakan persis di samping telingamu. “Tiga… dua … satu…” kataku lirih dan takut-takut. “Kriiinggggggggggggggg”. Kamu terbelalak kaget karena bunyinya. Aku bersorak-sorak seperti an...

Berjalan

  Berjalan, sayang. Dalam langkah yang satu-dua lebih lamban dari biasanya, bisa ku lihat warna daun menguning, pohon tua bijak tersenyum kepada angin yang meniup-niup awan putih malu-malu itu. Dituangkannya resah, takut, dan tanya pada warna kelabu sebelum hujan turun di kotamu yang hening. Telpon rumah berdering dengan nada yang itu-itu saja. Di zaman modern ini, orang lebih suka dengan hal-hal baru, sebentar dipakai sebentar diganti, dan - tidak terjadi percakapan di ruang yang sempit hari itu.  Maka kita berlari ke tanah lapang.  Aku tiba lebih awal dengan sepatu yang besar sebelah. Seperti cara badut bekerja, aku membiarkan orang lain tertawa, tapi aku tidak pandai melucu, jadi mereka tidak melempar koin dari sakunya yang kembung. Ramai orang bersorak-sorak menonton pertandingan. Saling adu. Siapa cepat dia dapat. Ah, apalah hal itu, sayang. Tidak lebih dari satu menit aku berlari, tiba lebih awal, tidak mendapat apa-apa. Berjalan, sayang.    Setibanya di r...