Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Seperti Maumu, Ta

Ah, ini hari yang melelahkan sekali ta. Tapi aku masih harus menyempatkan diri berdiskusi dengan ratusan abjad di halaman ini. Seperti biasa, aku tidak akan menuliskan sebuah puisi untuk sebuah permintaan. Lagi pula aku bosan harus menyulap orang-orang jadi sastra lama, klasik dan elusif. Aku mencintai puisi, tapi tidak suka kalau seseorang menyuruhku membuat puisi. Puisi adalah air. Selalu mengalir, bebas, jernih. Tanpa paksaan. Oya, bagaimana perihal hatimu? Apa sedikit lebih baik dari hari kemarin? Atau memang setiap hari ia selalu baik ta? Ah, rasanya tidak mungkin selalu baik, selalu senang. Ini hidup kan ta? Hidup adalah rangkaian ekspresi manusia. Boleh marah, sedih, senang, atau kecewa. Kita selalu bebas berekspresi. Mereka bebas pula menilai. Kamu tahu kan? Orang-orang lebih pandai menilai orang lain daripada diri sendiri. Sekarang kamu memintaku untuk menilaimu? Ah, itu perkara kecil ta. Susahnya adalah, bagaimana kamu menerima setiap penilaianku. Bagaimana caranya menjab...

Asalamu'alaikum Ibu-Bapak

Bapak, semoga anak perempuanmu satu-satunya ini bisa terus tumbuh mengikuti jaman dengan kemudi yang baik. Semoga anak perempuanmu ini hanya takut untuk melanggar kebenaran-kebenaran yang memang tak patut dilanggar saja. Sebab aku melihat bagaimana dunia ini semakin menua. Bagaimana hal-hal buruk dianggap menjadi sesuatu yang lumrah. Biasa saja. Ibu, lihatlah putri kecilmu ini. Dulu ibu yang selalu mengancingkan baju seragamku, mengepang rambutku, menina bobokanku, juga membacakan dongeng-dongeng sebelum akhirnya aku tertidur. Nyenyak sekali, Bu. Ibu, aku suka sekali menulis abjad di tembok rumah tetangga, aku senang menari bersama teman-temanku, bersepeda di siang bolong, bermain tali. Ah, aku putrimu yang manis sekali saat itu. Iya kan bu? Ibu aku suka sekali membaca, ibu ingat bagaimana aku antusias meminjam majalah sepupuku untuk ku baca setiap pagi, siang, sore dan malam? Aku belajar otodidak, sungguh. Aku tidak perlu masuk PAUD atau guru les privat. Ibu adalah pengajar terbai...

Pagi

Lihat ! Wajahnya indah seperti purnama. Sempurna untuk kau jadikan puisi malam ini. Apa kau suka diam berlama-lama ? Mengulur waktu, menunggu pagi mengusir purnamamu pergi ? Ah.. tentu kau tak suka pagi. Langitnya.. Sinarnya.. Embunnya.. Udaranya ... Tentu kau tak suka pagi. Alarm berdering terlalu cepat. Sinar mentari segera merambat. Kau pasti.. butuh secangkir kopi hangat. Ah.. tentu kau tak suka pagi. Embun yang jernih tetapi tetap kau anggap keruh. Langit yang biru tetapi tetap kau lihat kelabu. Sinar yang terang tetapi tetap kau anggap redup. Tentu kau tak suka pagi. Menyapu ribuan bintang di langit. Mengusik purnamamu hingga menjerit. Kau pasti... sangat sakit. Sekali lagi, Kau pasti tak suka pagi. Aku, adalah pagi.

Manusia

Manusia. Tidak suka disama-samakan, dibeda-bedakan ataupun dibanding-bandingkan, Manusia hanya suka apa yang mereka mau menjadi apa yang mereka dapatkan. Manusia membuat banyak sekali rencana dalam hidup mereka. Sibuk mempelajari ini itu, memperjuangkan a b c d. Ambisi, impian, tekad dan segala tetek-bengek lainnya menjadi bumbu dalam kehidupan mereka. Seperti sebuah drama. Kehidupan ini berputar setiap hari. Dengan ribuan konflik dan latar yang berbeda, dengan alur yang kadang maju, kadang mundur,manusia menjalani perannya masing-masing. Tentu saja mereka punya karakter yang berbeda di tiap-tiap adegan yang mereka mainkan. Ada saatnya mereka benar-benar memainkan tokoh protagonis dengan selalu mengucap syukur, membantu sesama, dan menebar banyak kebaikan pada semesta. Namun, ada saatnya pula, ketika mereka berubah menjadi tokoh antagonis dengan selalu mengeluh, merendahkan sesama, menyombongkan diri dan menebar banyak kejahatan pada semesta. Hidup adalah hitam dan putih. Air dan...

Sebuah Titik

Akhirnya, dia memutuskan mempermalukan dirinya sendiri di depan orang yang selama ini diam-diam dia suka. Memberikan pengakuan tanpa ada yang memintanya. Tanpa perlu berfikir panjang dia sudah melakukan segalanya. Se-ga-la-nya. Dia bilang, "Semuanya sudah selesai" Dari pernyataannya itu, kita tahu dia terluka. Lalu, kenapa harus diungkapkan kalau cuma bikin luka? Karena waktu terus berjalan. Aku tidak tahu sampai kapan perasaanku bertahan. Diam-diam, mengendap-endap, menyelusup.. Aku tidak tahu, sampai kapan aku menunggu. Tapi aku tahu, aku hanya akan melihatnya satu tahun lagi. Maksudku, setelah masa SMAku berakhir, semua kemungkinan bertemu dengannya menjadi satu berbanding seribu. Aku tidak bisa diam-diam memperhatikannya lagi. Tidak bisa meminjam bolpointnya lagi, tidak bisa membicarakan hal konyol dengannya lagi, lagi, lagi, dan lagi. Ya, melakukan hal yang sama berulang-ulang dengan orang yang sama pula belum tentu membosankan. Jadi,hari ini aku merasa sudah pumy...

Ter-se-rah

Beberapa rasa ada untuk siap diungkap. membentangkan sayapnya lalu siap diterbangkan. Ada begitu banyak penjelasan penting menjadi tidak penting Terserah ! Aku sudah merangkumnya menjadi paragraf yang lebih sederhana. Aku menyukainya. Terserah ! Bagaimana caranya membalasku. Suka atau tidak suka, Berbalas ataupun bertepuk sebelah, Terserah ! Lagi pula aku yang akan patah. Lagi pula mata siapa yang akan berair ? Hati siapa yang akan ketar-ketir? Wajah siapa yang harus pandai bersandiwara? Menutup cemburu yang hampir saja bersuara. Lihat ! aku berjalan di pematang-pematang takdir Berharap do'aku didengar lantas Tuhan mengizinkanya hadir, Lihat ! aku menulis ribuan sajak tak beraturan untuknya, Mengapa harus beraturan? Aku tidak berhak mengatur dan tidak mau diatur soal rasa Biar ! Biarkan semua mengalir seperti sungai yang berkuasa Meliuk melewati bebatuan untuk sampai ke muara. Lihat ! Lihat aku baik-baik. Apa aku terlihat begitu menyedihkan ? Siapa peduli,...

Untuk Ibu

Ibu, umurku sekarang 17 tahun. Aku bukan lagi anak kecil, tapi bukan juga orang dewasa. Aku mulai suka memberontak, beradu argumen, membentak, tidak mau diatur. Aku mulai keras kepala. Apakah ibu marah? Ibu, umurku 17 dan aku harus berubah. Aku tidak bisa keluar rumah dengan baju kusut, muka belang, rambut dikepang dua. Ini zaman 2016 dan aku harus terlihat sempurna. HP baru, leptop baru, tas baru, sepatu baru, pakaian modis. Aku mulai banyak permintaan. Ibu, apakah ibu kesal? Ibu, umurku 17 dan aku suka membaca. Tujuh jam menghadapi soal Matematika,Fisika, Kimia, Bahasa Inggris, dan bermacam-macam pelajaran lainnya di sekolah. Aku sanggup membaca lima ratus halaman novel hanya dalam satu hari, membaca cerbung di facebook berjam-jam, menonton video, bermain games. Tapi mengapa berat sekali rasanya, menyisakan waktu satu jam untuk membaca Al-Qur'an? Ibu, apakah ibu kecewa? Ibu, umurku 17 dan aku jatuh cinta. Aku sering menanyakan kabarnya, khawatir dengan keadaannya, aku mem...